Bee Venom Spray: Terapi Mutakhir sebagai Alternatif Penanganan Dermatitis Atopik

Muvida; Farida Nur K.; Mustiqa Febriniata. 2012

Latar belakang: Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit peradangan kulit yang kronik, ditandai dengan rasa gatal, eritema, edema, vesikel, luka, dan penebalan. Tujuh puluh persen kasus DA umumnya mulai muncul pada anak-anak di bawah 5 tahun dan 10% pada saat remaja/dewasa. Terapi topikal pada DA sendiri biasanya berupa pemberian kortikosteroid yang jika digunakan secara berkepanjangan akan menimbulkan efek samping jika diberikan pada kulit yang tipis seperti kulit wajah dan bayi berupa aktivitas antimitotik yang menyebabkan penipisan epidermis kulit. Oleh karena itu, penulis menawarkan terapi alternatif dalam penanganan DA dan mengurangi efek samping yang diakibatkan pemberian kortikosteroid dengan menggunakan bee venom spray (BVS). BVS memiliki potensi antiinflamasi dan antibakteri yang tinggi karena keberadaan melittin yang merupakan komponen utama BV. Sehingga dengan pemberian BVS dapat menjadi terapi alternatif dalam penanganan dermatitis atopik dan mengurangi efek samping yang diakibatkan pemberian kortikosteroid.

Rumusan masalah: Bagaimana potensi dan mekanisme bee venom spray sebagai terapi alternatif penanganan dermatitis atopik? Metode penulisan: Metode eksposisi dengan pemaparan suatu mekanisme.

Analisis sintesis: Bee venom spray (BVS) memiliki potensi besar sebagai alternatif penatalaksanaan dermatitis atopik (DA). Potensi ini didapatkan melalui aktivitas antiinflamasi yang kuat dari BVS. BV mampu menghambat penebalan dan lesi kulit dan mengurangi produksi IgE secara signifikan. Efek antiinflamasi BVS didapatkan melalui beberapa mekanisme: 1) menghambat cidera jaringan karena respiratory burst, 2) menekan produksi NO, iNOS, dan TNF-á yang dapat mengaktifkan kaskade inflamasi, 3) menurunkan aktivitas enzim proteolitik secara signifikan dan mengurangi kadar reactive oxygen species (ROS), 4) menghambat aktivasi NFêB yang dapat mengurangi reaksi inflamasi dan hiperplasia keratinosit. BV menghambat pertumbuhan S. aureus yang banyak ditemukan pada penderita dermatitis atopik dan paling sering menyebabkan infeksi sekunder karena mikrolesi akibat garukan. BV menunjukkan sitotoksisitas yang sangat rendah terhadap keratinosit epidermis dan monosit manusia. Di samping itu BV tidak mempengaruhi viabilitas sel

Simpulan dan saran: Terapi menggunakan bee venom spray dapat diaplikasikan untuk dermatitis atopik karena memiliki aktivitas antiinflamasi dan antibakteri. Namun, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan potensi tersebut sekaligus meminimalkan efek samping yang mungkin terjadi.

Kata kunci: Bee venom, dermatitis atopik, bee venom spray

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*